Memulai Karir dari Jualan Daging, Kini Mak Dika Fatiya Kelola Supermarket Bahan Pangan di Banda Aceh

0
200

Masa pandemi covid kali ini membuat seluruh sektor harus beradaptasi dengan kehidupan normal baru atau yang lebih kita kenal dengan istilah new normal, tidak terkecuali yang dirasakan oleh emak-emak satu anak asal Banda Aceh yang saat ini berprofesi sebagai seorang wirausaha pemilik supermarket bahan pangan “Simpang Lima Grocery”, Mak Dika Fatiya atau yang lebih sering disapa Diya. Siapa sangka, karir emak setrong yang satu ini berawal dari ‘jualan daging’ di Aceh, hingga akhirnya berkembang menjadi supermarket. Bagaimana cerita detilnya? Yuk simak.

  • Mengawali karir dengan membentuk berjualan daging dan membentuk PT Kelola Pangan.

Mak Diya mengambil momen ‘hari megang’ dimana warga aceh banyak membeli daging sebelum bulan puasa untuk menjual daging dengan harga yang lebih murah dari harga pasar. Walau begitu, bukan berarti kualitas daging yang dijual oleh Mak Diya tidak sebagus kualitas daging lain, Mak Diya berkata justru dengan menjual harga dibawah harga pasar saat itu, dia masih mendapat untung, karena memang pada momen ‘hari megang’ harga pasaran daging di aceh naik berlipat-lipat.

Setelah momen ‘hari megang’ tersebut, Mak Diya kemudian mengelola PT Kelola Pangan yang bergerak di bidang daging beku, dengan target pasar ’HORECA’ alias hotel, restoran dan café.

  • Banyaknya demand konsumsi rumah tangga, akhirnya membuat Mak Diya dan team ekspansi membuat supermarket bahan pangan.

Semakin lama karena semakin banyak kolega yang mengetahui penjualan daging beku PT. Kelola Pangan, akhirnya membuat banyaknya permintaan daging skala rumahan pada perusahaan mereka. Lama kelamaan demand daging beku skala rumahan semakin banyak dan mengganggu konsentrasi perusahaan yang target audiensnya adalah HORECA. Masalah ini yang akhirnya mengilhami dibukanya supermarket bahan pangan “Simpang Lima Grocery”.

  • Dikenal sebagai ‘toko organik’-nya Banda Aceh.

Karena hobi Mak Diya adalah mengunjungi supermarket dan berbelanja makanan di supermarket, bahkan setiap habis gajihan sebelum nikah biasanya menghabiskan waktu untuk grocery shopping di supermarket hingga bisa dibilang seperti ‘kuncen’, maka Mak Diya melengkapi supermarketnya dengan produk-produk unik yang jarang ada di pasaran aceh. Terlebih lagi, karena pengalaman pribadi kesulitan menemukan bahan-bahan MPASI untuk si kecil, maka Mak Diya melengkapi supermarketnya dengan kebutuhan MPASI dan produk-produk organik.

Hal inilah yang menyebabkan Simpang Lima Grocery sering dijuluki sebagai ‘toko organik’ di Banda Aceh.

  • Dimasa pandemi, omzet penjualan daging beku menurun drastis, namun omzet supermarket perlahan-lahan meningkat.

Seperti yang kita tahu, karena adanya pandemi membuat banyak hotel, restoran dan café yang penjualannya menurun drastis, hal ini tentunya berefek terhadap omzet penjualan daging beku yang dikelola Mak Diya di Kelola Pangan. Namun Mak Diya bersyukur karena mendirikan supermarket bahan pangan di timing yang tepat, yaitu beberapa bulan sebelum pandemi. Berkat pendirian supermarket ini, Mak Diya akhirnya meraup keuntungan karena di era pandemi seperti ini, kebutuhan pangan untuk bertahan hidup seperti jualan Mak Diya di Grocery sangat dibutuhkan.

  • Menerapkan protokol keamanan covid yang tepat sehingga pengunjung merasa aman dan nyaman saat berbelanja.

Di masa pandemi seperti ini, tentu saja pusat keramaian seperti supermarket perlu menerapkan protokol covid, otomatis supermarket yang dikelola Mak Diya pun perlu melakukan protokol serupa. Protokol covid-19 seperti penyemprotan disinfektan berkala, jaga jarak, penyediaan tempat cuci tangan dan tidak mengizinkan membawa anak untuk ikut berbelanja selama masa pandemi ini dijalankan oleh Simpang Lima Grocery dan membuat pelanggan Simpang Lima Grocery merasa aman saat berbelanja. Hal inilah yang membuat pelanggan Simpang Lima Grocery mereka datang lagi dan lagi ke supermarket bahan pangan yang dikelola Mak Diya.

Itu dia tadi sekelumit cerita Mak Dika Fatiya alias Mak Diya sebagai founder dan owner dari Simpang Lima Grocery, menginspirasi sekali ya makshaay. Dimulai dari jualan daging beku, sampai akhirnya mengelola supermarket. Mau denger cerita lengkapnya? Simak aja di podcast emaksetrong episode 15, bareng Mak Diya:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here